Monday, May 19, 2014

Melatih anakku berfikir

Dunia parenting adalah dunia baru bagi saya. Walaupun jauh sebelumnya saya sudah mencoba mengintip kisi-kisi soal parenting tetapi Semakin dalam saya mencari, semakin banyak pula cabang dan ranting ilmu pengetahuan yang satu ini.

Baru bulan depan anak saya akan meniup lilin tahun pertamanya. Tapi perkara mencari sekolah yang tepat sudah saya tekankan (paksakan, lebih tepatnya) pada suami, agar mepersiapkan biaya sekolah di (sebut saja, sekolah A) Sekolah A ini adalah sekolah berbasis agama yang ke masyhuran-nya sudah melegenda, kece berat kalo anak saya bisa sekolah disana! (Padahal saya belum tahu sama sekali kurikulumnya). Lagi-lagi sisi prestige yang bicara.

Kemudian seperti tadi saya bilang, semakin saya mendalami ilmu parenting semakin terbuka lah fikiran saya bahwa sekolah yang baik, tidak harus berbayar mahal (ditambah kasus JIS yang membuat bulu kuduk berdiri!) Perkara mencari sekolah agar mendapatkan pendidikan yang layak ini terus menerus menghentak fikiran saya *jeileh*.
Sampai suatu hari, teman di birthclub mengirimkan saya sebuah ebook berjudul 'Saatnya melatih anakku berfikir' karya Toge Aprilianto.

Awalnya saya beranggapan bahwa, proses berfikir dan menambah ilmu pengetahuan adalah tugas sekolah. Karenanya saya bersikukuh mencari sekolah yang terbaik buat anak saya kelak. Buku ini lah yang kemudian memutar-balikan segalanya. Bahwa proses berfikir dan menambah ilmu bisa di latih oleh orangtua bahkan sejak si anak lahir. Pantaslah seorang penyair Arab berkata 'Al Ummu Madrosatul Ula - Ibu adalah sekolah pertama bagi anaknya'.

Point-point singkat yang saya rangkum dari buku tersebut, diantaranya:

Parenting adalah proses mendidik dan mengasuh anak sejak dilahirkan hingga mencapai kedewasaan mental.

Ah, satu ilmu penting yang saya dapat.
Sejak kapan kedewasaan mental harus di didik? 17 tahun menghabiskan waktu di bangku sekolah maupun dirumah, saya tidak pernah di ajarkan soal menata mental. Biasanya tata krama dan sopan santun hanya menjadi 'aturan tak tertulis' yang makin hari, semakin tidak penting untuk di ikuti.

Kedewasaan mental menurut Toge dapat di ukur dari; Kesanggupan mengelola dirinya sendiri, kesanggupan mempelajari hal baru dan kesanggupan terlibat dalam kehidupan sosial.

- Syarat pelaku parenting salah satunya adalah sudah menyelesaikan masa kanak-kanak agar kita tidak terjebak dalam strategi kekanakan ketika berhadapan dengan anak ( kata-kata ini saya renungi dalam-dalam)

-  Tugas utama Parenting adalah fokus pada faktor Fisik (mengajarkan anak kebersihan, kesehatan & Keselamatan), Faktor Kognisi ( kesiapan berfikir sebagai pengendali seluruh perilaku anak kelak), Faktor emosi (kesiapan anak menghadapi situasi emosional dalam hidup yang biasanya melibatkan lingkungan sosialnya)

Ada 9 keterampilan hidup yang dijabarkan oleh Toge sebagai turunan dari tugas utama pengajaran parenting diatas, yaitu ; Memahami dan menghargai diri,
merawat diri, menyelamatkan diri, menghadapi perubahan, menjalin relasi sosial, belajar, memanfaatkan pengetahuan, menghadapi masalah dan menyelesaikannya, lalu yang terakhir, berkarya.

(Pause sejenak, lalu renungkan...  Ternyata banyak banget yang harus diajarkan kepada anak-anak kita yaa...)

Selanjutnya, agar kita tak kehilangan arah dalam proses parenting. Toge memberikan track atau Rute pola asuh-didik, yang sangat bagus untuk di ikuti sesuai usia anak kita :

0-2y (Membangun rutinitas)
Rutinitas ini penting agar anak disiplin.
Sebagai contoh random : Anak saya, M (11mos) sudah punya kebiasaan jam berapa tidur, makan, main dan mandi. Pada saat ada satu hal yang terlewat, secara refleks tubuhnya mengirimkan sinyal protes (biasanya dengan tangisan hehe)

1-3y (Membangun keterampilan memilih)
Ada tiga hal pilihan disini yang bisa dilatih pada anak secara bertahap :
Enak vs tidak enak (ex. masih mau main atau pulang sekarang?)
Enak vs enak ( ice cream atau coklat?)
Tidak enak vs tidak enak (mau mandi sendiri atau mama yang mandikan?)

Biarkan anak memilih salah satu dari pilihan yang disediakan, agar ia belajar menganalisa dan menerima konsekuensi pilihannya tersebut. Bersabarlah untuk menunggu jawaban anak (bukan dengan tergesa-gesa menentukan yang terbaik untuk anak, hanya karena dia masih kecil, bukan berarti dia tidak sanggup berfikir)

2-4y (Membangun keterampilan menawar - Posisi anak sebagai pembeli)
Kenyataan bahwa apa yang kita inginkan selalu ada harganya dapat menjadi esensi pelatihan dasar bagi anak
Contohnya dengan kalimat : "terserah kamu. Kalau mau mendapatkan itu, lakukan ini. Kalau tidak mau ya kamu tidak dapat apa yang kamu inginkan"

3-5y (Membangun keterampilan menawar - anak sebagai penjual)
Misal jika anak ingin jatah menonton TVnya lebih lama di hari weekend. Maka ia bersedia untuk makan dan mandi dengan teratur tanpa di suruh terlebih dulu.

Tapi ingat.. anak-anak itu cerdas, jangan sampai perbuatan baiknya (yang sudah ia lakukan) di kompensasikan dengan keinginannya. Karenanya, proses penawaran ini hanya berlaku setelah kedua pihak saling menyepakati.

4-6y ( membangun keterampilan berdagang, win-win transaction)
Anak harus dihadapi kenyataan bahwa keinginannya kerap akan berbenturan dengan kepentingan orang lain. Karenanya perlu dilakukan kesepakatan yang tidak akan merugikan orang lain, anak dilatih agar mau berkompromi dengan keadaan yang garis besarnya, jika ia ingin mendapatkan apa yang dia mau, dia harus mau bersabar mendahulukan proses orang lain (misal, mama harus ke supermarket dulu, baru bisa beli mainan) atau melakukan usaha atau pengorbanan ( setiap mencuci satu piring artinya 1000 rupiah akan diberi untuk menabung beli sepeda yang dia inginkan, dll.)

5-7y (membangun keterampilan untuk memperjuangkan keinginannya)
Pada tahap ini biasanya anak akan mulai mahir berdagang. Dimana ia mengerti semua yang ia inginkan selalu mungkin di dapatkan bila dia mampu memenuhi syarat yang menyertainya.  

6-8y (membangun keterampilan menghadapi resiko/akibat)
Membiasakan meminta 'penjelasan' atas perbuatannya akan mebuatnya mengerti tentang konsep sebab akibat. Tujuannya agar anak mengerti dan terbiasa mengapa ia melakukan hal itu dan untuk apa ia melakukannya. Hal ini akan membentuk sikap rasional pada diri anak agar tidak semata mengikuti emosinya saja. kebiasaan bersikap rasional adalah dasar pembentukan sikap bertanggung jawab.

7-9y (membangun keterampilan menghadapi resiko dan mencari solusi)
Setelah anak-anak terbiasa dipapar oleh akibat, anak akan bersikap lebih hati-hati. Bisa dengan bertanya apa yang akan dihadapinya jika dia begini atau begitu. Hal yang penting adalah anak jangan sampai takut menghadapi resiko atau menyerahkan dirinya pada nasib. Faktor emosi menghadapi resiko harus di kelola oleh anak agar ia siap menghadapi resiko dari pilihannya.

8-10y (membangun keterampilan membangun solusi)
Jika di rute sebelumnya, anak bisa bertanya pada kita mengenai resiko yang mungkin timbul. Di usia ini anak sudah bisa di ajak diskusi untuk bersama-sama mengamati dan memikirkan kemungkinan-kemungkinan dari pilihan dan resikonya. Gunakan kata kunci 'menurutmu, bagaimana?'

9-11y (membangun keterampilan memeriksa solusi)
Tahapan ini adalah tahapan transisi dimana orangtua yang menggunakan pola asuh-didik menjadi pola pendamping dan konsultan. Diharapkan di usia ini (kira2 lulus SD) anak sudah mahir mengambil keputusan berdasarkan pertimbangan resiko.

10-12y (membangun keterampilan mengatur strategi)
Pada usia ini anak akhirnya akan menyadari bahwa semua arah hidupnya akan bergantung dari pilihan yang ia ambil beserta resiko yang mengikutinya. Istilahnya, anak akan menyadari bahwa dia mampu meletakan kebahagiaan di atas tangannya sendiri (dari pilihan2 yang ia ambil) bukan mengharap dari orang lain agar memberi atau mengerti perasaannya atau menuruti semua keinginannya bak Raja atau Ratu.

11-13y ( pola asuh didik sudah selesai, berganti pendampingan)
Diusia ini anak diupayakan telah mampu menjadi pribadi yang mandiri. Biasanya diusia ini anak mulai membuat keputusan2nya sendiri, mulai menguji jati dirinya, orangtua yang telah membekali keterampilan hidup diatas, cukup berperan sebagai konsultan yang siap memberi masukan bila diperlukan.

Adapun orangtua yang belum mempersiapkan anaknya secara mandiri di tahap ini akan sedikit kesulitan karena anak kehilangan jati diri sehingga proses pencarian jati dirinya akan melibatkan banyak orang, bagian buruknya, jika proses mencari jati diri ini bisa merusak masa depan si anak dan orang lain di sekitarnya ( sex bebas, narkoba atau sebab yg ditimbulkan dari orangtua yang terlalu overprotective).

Nah, berat ternyata tugas parenting itu yak?

Berat karena sebagai orangtua kita ingin memberikan segala yang terbaik untuk mereka. Bahkan segala usaha dan penderitaan jika boleh biarlah diri ini yang menanggungnya. Tapi efek yang ditimbulkan dari cinta buta terhadap anak ternyata jauh lebih menyakitkan dari sekedar kesedihan yang di derita anak ketika ia menerima resiko atas perbuatannya yang tidak baik.

Rangkuman diatas tentu hanya saya ambil secara garis besar saja. Untuk lebih lengkap dan dalam, bisa langsung membaca buku tersebut. Saya merekomendasi buku ini u tuk dibaca setiap orangtua.

Semoga apa yang saya tulis bermanfaat dan sesuai dengan arah tujuan dari buku yang di tulis Pak Toge.

Jadi, sekali lagi betul ya... Al Ummu madrosatul ulla... idzaa a'adtaha a'dadta sya'ban khoiril 'irq..
Seorang ibu adalah sekolah pertama bagi anaknya. Jika ia dipersiapkan dengan baik sama dengan mempersiapkan bangsa yang berakar kebaikan.

-CF-

Sunday, May 11, 2014

TRAVELING: Jayapura, Papua

Hey Junes, 

I want to share about my quick trip to Jayapura. I was there for business trip, but don't worry, I will not bore you with the work side of the story, hehe...

FLIGHT
I took Garuda which - very fortunately - has now had direct flight to Jayapura, yeay! My flight was scheduled on a Wednesday at 23:50, just a few minutes before midnight. We are served bread about an hour after it took off, and woken up about 90 minutes before landing for breakfast (nasi uduk). It was on time, and I landed there at 07:20 in the morning, about 5.5 hour flight (5 hours in the air). After a quick wash, my colleague and I met our driver and went to work. 

We returned to Jakarta with another direct flight at 12.10 noon. It was also smooth despite the slight delay. I arrived in Jakarta at a few minutes after 15.10. We got lunch and snack too. 

LOCAL TRANSPORT
I booked a car (Avanza 2009) with a driver (Pak Dullah from Makassar). He was a good driver, know the ways, quiet, and kind. We always asked him to join us during lunch/dinner, but he did not eat much, I have to shove veggies/meat to his plate to make him eat more. The rate (April 2014) was IDR 600.000 nett all inclusive (park, gas, rent, driver fee) for about 12-hour work per day. On the last day, te rate should be IDR 300.000 for airport drop-off but as we need to go to other places first, it became IDR 450.000. I recommended him, so if you need his number, just contact me :)

HOTEL
We stayed at Swiss Bel-Hotel Jayapura. I booked it via tiket.com utilizing Mandiri Credit Card's 15% discount program. If booking directly through the hotel, you can claim points with your GFF card. 

My room faced the ocean, yeay! Beautiful view. The room itself was okay. Designed in old-fashioned style, I don't fancy it, but it was clean. No hair dryer, but there was hot water electric kettle, fridge with freezer (my ASIP ice gels was frozen well), and LCD TV with favorite channels, such as AXN, Star World, HBO, Star Movies Premium, etc. They gave quite a complete toiletries set (bath gels, shampoo, tooth brush, shower cap, sewing kit, sanitary bag, but no hair brush), a mat, and 2 body towels. The wet mat was unfortunately not changed on the next day.  Every early evenings, a staff will walk around and knock your door asking if you need anything (toiletries perhaps). 

The breakfast was fine, you can choose outdoor seating area overlooking the ocean. The variation was okay. 

There were 2 pools (and a fitness center) nearby the breakfast area, 1 small one for kids, and 1 bigger one. 

My colleague was visiting the hotel's cafe on the second evening and was worried about the mosquito's bites (thankfully he is okay though). Outside the hotel, just a short walk, there were a lot of seafood warung, cafe, and minimarket nearby.

CULINARY
We simply asked Pak Dullah to take us to good place for lunch/dinner. On the first day, we went for lunch at a seafood restaurant. It was about IDR 285.000 for 3-person lunch (fish, shrimp, squid, rice, kangkung, drink). The taste was good. 

In the evening, we walked 2 minutes and eat at seaview warung next to the hotel. It costs IDR 210.000 for two persons (fish, shrimp, kangkung, rice, drinks). 

On the next day, we skipped lunch (but ate 7 small roti gulung abon each as substitution, haha) and ate at around 5pm at Youngwa restaurant. Beautiful view, clean bathroom (important! hehe), good food. It costs about IDR 250.000 for 3 persons (fish, squid, kangkung, rice, papeda - huge portion, drinks).

OLEH-OLEH - FOOD
You must definitely buy roti gulung abon! We tried 2 bakery. The first one was Hawai Bakery, then Manokwari Bakery. The Hawai ones were still imported from Manokwari city while the Manokwari Bakery's ones are baked in Jayapura (its store/baking center was located not too far from Swiss Bel).

Hawai Bakery tasted so full of floss so even when you bought other flavors, it still tasted like floss only. Manokwari has 5 flavors (tuna, beef, chicken floss, chocolate, cheese). The chocolate/cheese one had only a little floss so still tasted like choco/cheese roll.

At the end, we chose to buy from Manokwari Bakery because it was cheaper, baked freshly in Jayapura, and tasted as good (or better). 

Manokwari:
IDR 70.000 for 1 pack of small 10 floss bread roll, and IDR 110.000 for the big pack of 10 big rolls (twice as big). You can mix the flavors, the most usual packs sold was mix (5 flavors) or beef floss. You can also mix any combination of the flavors if you go to the baking center (not the airport outlets). Btw, the great news was that the airport outlet sells it with the exact same price (it was sold in a canteen just before the boarding area, on the right-hand side). I already bought a lot but still... not enough, haha 😂 oh, and they also sold papua chocolate (30.000 per smal packs of 9 praline-like chocolate). 

Hawaii:
IDR 90.000 for small packs and IDR 130.000 for big packs (any flavors) at outlets outside airport. 
IDR 85.000 for beef floss flavors and 95.000 for mix in small packs, or IDR 125.000 and 135.000 for big packs.

OLEH-OLEH - SOUVENIR
Our kind driver took us to Aneka Batik for shopping. Surprisingly, there were a lot of good quality (well-designed, good color, good fabric) t-shirts and batik here. I instantly wondered whether the shirts were made in Bandung, hehe. 

T-shirts for kids ranged from IDR 50.000-70.000 depend on sizes, adult t-shirts priced at around IDR 90.000. Batik shirts varied from IDR 100.000 to 500.000. There are small cloth bag for 20.000, cell phone bag for 45.000, and women bags for 150.000-300.000. 

Another option to buy your souvenir is actually at airport. The price there was surprisingly good. I got well-designed shirt (size S/M) at only 50.000. The floss bread roll is also sold with same/similar price in the airport.

SIGHTSEEING
Oh, btw, have I told you? Jayapura was beautiful! Hills, lake, ocean, green scenery everywhere :) I did not have much time so only went to Mac Arthur Hills to see the beautiful scenery. Unfortunately, when we went there, the gate was closed (we went at 15:45) so we chose a spot in the way back down and took pictures there :) Btw, you need to stop at a military post before entering the Mc Arthur area, open the windows, leave an ID, and you were good to go.

One more tip, I don't take pil kina before I went there, and Alhamdulillah was fine as I only went to Jayapura city and Sentani are. 

Okayyyy... That's it. A few tips for those who might want to go to Jayapura :) Not too many tips perhaps, due to my limited time there, but hopefully it helps. Have fun in Jayapura!

-FW-